Sarahlistiarakhma's Blog

Icon

Just another WordPress.com site

CERPEN KELUARGA (no title)

Risya adalah seorang anak dari dua bersaudara. Risya pada saat ini merupakan seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 2 SMA sedangkan adiknya yang bernama Irsyad duduk dibangku kelas 1 SMP. Risya terlahir dari orang tua yang berkecukupan, tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.

Pada suatu saat ada kejadian yang membuat keluarga Risya menjadi terpukul. Diawali pada saat Risya ingin menjemput ayahnya yang baru pulang kantor. Biasanya Risya menjemput ayanhnya di ujung jalan  pada pukul 5 sore, tapi setelah satu jam Risya menuggu ayahnya tak kunjung tiba. Pada saat itu ayahnya Risya tidak membawa HP nya, sehingga Risya kesulitan untuk menghubungi ayahnya. Karena satu jam menunggu ayahnya tak kunjung datang, Risya memutuskan untuk pulang dengan harapan ayahnya sudah sampai di rumah dengan melewati jalan yang lain.

Tetapi harapan Risya nihil, ayahnya belum sampai kerumah. Risya pun bertanya kepada ibunya “Bu, ayah kemana? Kok belum pulang”. Ibu yang tidak tahupun,hanya menjawab “tidak tahu nak, mungkin ayah sedang ada rapat”.

Haripun sudah menunjukan pukul 8 malam, tetapi belum ada kabar dari ayah. Risya, Irsyad, dan Ibu pun mulai khawatir.

Kring…kring…kring…

Suara telepon yang berbunyi berharap ayah yang menelpon. Nyatanya bukanlah ayahnya yang menelpon, melainkan mantan atasan ayahnya RIsya yang menelpon. Ibu Risya yang mengangkat telepon langsung menanyakan mengapa mantan atasan ayah menelpon, dan dia menyampaikan bahwa sedang terjadi masalah yang menyebabkan ayah Risya belum pulan dari kantornya.

Khawatir? Ya!  Mereka sangat khawatir. Sampai pukul 9.30 ayah belum juga ada kabarnya. Risya dan Irsyad malam itu mulai terkantuk, Ibu yang menuggu ayah terihat gelisah.

Kring…kring…kring…

Suara telepon berbunyi kembali, Risya pun terbangun dari tidurnya karena dia mengira itu telepon dari ayahnya. Dan benar saja, itu adalah telepon dari ayah Risya. Risya langsung menghampiri sang ibu yang sedang menerima telepon dari ayah.

Risya mendengarkan dan memandangi ibu yang sedang mendengarkan ayah berbicara di telepon. Risya melihat mata ibu mulai berkaca-kaca dan sampai pada akhirnya ibu mengangis. Risya bingung, kenapa ibunya menangis? Apa yang terjadi dengan ayahnya? Risya bertanya-tanya dan Risya yang melihat ibunya menangispun ikut menangis tanpa tahu apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya sang Ibu bilang bahwa “Ayah di fitnah, ayah dituduh oleh rekannya di kantor dan sekarang ayah masih ada dikantor untuk di introgasi”. Risya yang mendengar hal itu terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Setelah mendengar kabar itu, Ibu Risya menghubungi om Danu dan om Hendra yang merupakan saudara kandung dari ayah Risya. Ibu dan saudara ayah Risya langsung pergi untuk menjemput ayah di kantornya. Risya menunggu di rumah dengan keadaan jiwa yang terguncang memikirkan ayahnya. Risya yang gelisahpun tidak bisa tertidur, dan ia memutuskan untuk sholat demi menenangkan dirinya sendiri dan berdoa untuk ayahnya.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Ayah, Ibu, dan yang lainnya baru tiba dirumah. Risya yang berada di dalam kamar hanya berani mengintip kedatangan ayahnya dari jendela kamar. Ingin pada saat itu Risya memeluk ayahnya, memeluk ayahnya dengan erat. Tapi Ia tak berani melakukan hal itu, Risya hanya bisa menangis dan menangis di dalam kamarnya sampai pada akhirnya dia tertidur.

Di pagi harinya pada saat Risya bangun dari tidurnya, ia melihat ayanhnya yang masih terlelap tidur karena lelah. Lagi-lagi Risya menangis memandang ayahnya yang sedang lelap tertidur, dan berkata dalam hati “ayah yang begitu baik, ayah yang begitu hebat, ayah yang tidak pernah mengeluh karena lelah, sekarang terlihat tumbang. Risya yakin ayah bukanlah orang yang seperti apa mereka tuduhkan, justru merekalah orang-orang yang jahat terhadap ayah”.

Risya mengahampiri ibunya dan memintanya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Ibu menceritakan semua yang terjadi pada Risya bahwa ayah di fitnah rekan kerjanya sendiri. Pada saat di introgasi, ayah di bawa ke ruang tertutup dan yang mengintrogasi bukanlah dari pihak kepolisian, melainkan security perusahaan itu dan atasan ayah yang baru di tempat ayah bekerja. Dan saksi yang ditanyapun besikap seolah tak mau tahu dan acuh, padahal mereka adalah teman satu ruangan dan merupakan bawahan ayah Risya. Di tempat itu, ayah diancam, ayah dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak ayah perbuat dan juga disuruh menandatangani sebuah surat. Apabila ayah tidak mau menandatangani surat itu maka ayah akan dipecat tanpa upahnya mengabdi selama 15 tahun di perusahaan itu dan apabila ayah menandatangani sebuah surat maka ayah akan di anggap resign dan mendapatkan upah 15 tahun dia mengabdi di perusahaan itu. Ayah mengaku dan menandatangani surat itu, dengan pemikiran bahwa dia masih memiliki 2 orang anak yang masih bersekolah. Akhirnya ayah bersedia menandatangani surat itu, yang ternyata surat tersebut berisi surat pengunduran diri atas nama ayah sehingga ayah hanya tinggal menandatangani saja surat tersebut. Dan didalam surat tersebut terdapat catatan bahwa, ayah menandatangani surat ini tanpa adanya unsur paksa.

Risya yang mendengar cerita ibu tak kuasa membendung air matanya. Risya teringat akan satu hal, bahwa sebelum kejadian tersebut ayah Risya mendapatkan training  untuk kenaikan jabatannya. “Apa ini yang menyebabkan “teman” ayah melakukan hal tersebut pada ayah?” pikir Risya. Tangis Risya semakin menjadi, ditambah Risya teringat akan teman-teman ayahnya yang dia kenal sejak lama. Risya masih dalam keadaan tidak percaya, kalau teman-teman ayahnya tega melakukan hal ini terhadap ayah.

Sehari setelah kejadian, sanak saudara banyak yang mengunjungi rumah Risya untuk menjenguk ayah  yang keadaannya sedang tidak baik. Bukan hanya sanak sadara, melainkan teman-teman ayah Risya yang mengenal baik beliau pun datang menjenguk dan memeberi dukungan moril. Ayah Risya sudah menerima dan ikhlas atas kejadian yang menimpanya, beliau berpasrah kepada Allah SWT dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Karena hanya Allah SWT tempat mengadu dan membuat hati menjadi tenang.

Hari demi hari mereka lewati dengan lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT. Ibu, Risya dan Irsyad perlahan sudah mulai mengikhlaskan kejadian yang menimpa keluarga mereka.

Beberapa bulan ayah menganggur, tapi berliau tidak pernah patah semangat untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Karena kesabaran ayah Risya, beliau akhirnya mendapatkan pekerjaan. Walaupun tempat kerja yang sekrang jauh dari rumah dan upah kerjanyapun jauh dibawah dari pekerjaannya yang lama, beliau tetap bersyukur.

Tidak lama ayah Risya bekerja di kantor yang baru, beliau mendapatkan panggilan pekerjaan di Yayasan Pendidikan. Yayasan ini terletak tidak begitu jauh dari rumahnya, dan pada akhirnya beliau memeilih resign dari kantor dan pindah bekerja ke Yayasan Pendidikan sampai sekarang.

Risya, Irsyad, ayah dan ibu menjalani kehidupan mereka dengan hati yang penuh lapang. Hidup keluarga mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan saat ini mereka menjalani hidup tanpa dibayang-bayangi kejadian yang kelam itu, mereka sudah ikhlas dan melupakannya.

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita diatas. Ada saatnya dimana manusia berada “diatas” dan “dibawah”. Dan dimana hidup tidak seharusnya selalu melihat ke “atas”, melainkan ke “bawah”. Karena ketika kita hidup melihat ke” atas”, kita tidak akan pernah bisa merasa bersyukur dan puas atas kenikamatan duniawi yang sudah dicapai melainkan hanya ingin menambah dan menambah tanpa mengingat orang-orang sekitar yang membutuhkan dan ambisi pada akhirnya yang mengusai diri kita. Dan apabila kita melihatnya ke “bawah”, setidaknya kita akan merasa bersyukur kalau kita masih diberikan nikmat duniawi sama Allah SWT tanpa lupa bahwa banyak orang-orang yang kurang beruntung di luar sana. Dan kita sebagai orang-orang yang berkecukupanlah yang wajib menolong antar sesama umat manusia. Mengejar atau berusaha untuk mencapai yang lebih dari sekedar cukup itu sanga diperbolehkan, hanya saja kita seagai manusia tidak boleh melupakan untuk selalu tetap bersyukur akan apapun yang sedang kita hadapi dan juga tidak lupa untuk saling tolong menolong.

Filed under: tugas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: